Minggu, 05 Desember 2010

AGAMA SEBAGAI SARANA UNTUK MENGATASI GEJALA ALAM, SOSIAL, DAN BUDAYA

A. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan bermasyarakat, agama memegang peranan yang besar dan sangat penting. Keberadaan agama di tengah-tengah masyarakat tidak dapat diabaikan. Agama mengatur tentang bagaimana membentuk masyarakat yang madani. Agama juga yang mampu menciptakan kerukunan dalam kultur masyarakat yang majemuk. Seperti yang kita semua ketahui bahwa tidaklah mudah untuk hidup dalam perbedaan. Setiap perbedaan, utamanya perbedaan pendapat yang ada di masyarakat dapat memicu timbulnya perselisihan. Di sinilah posisi agama memainkan perannya yang penting sebagai penegak hukum dan menjaga agar masyarakat saling menghormati dan tunduk pada hukum yang berlaku.
Di dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 5 dijelaskan bahwa di dalam diri manusia terdapat kekuatan-kekuatan yang selalu berusaha menarik dirinya untuk menyimpang dari nilai-nilai dan norma Ilahi. Dengan kata lain, sebagai perusak, hal ini bisa berbentuk kerusuhan, demonstrasi dan sebagainya yang semuanya diakibatkan oleh tangan manusia. Jadi, yang menjadi sumber utama terjadi konflik adalah masyarakat atau pemeluk agama, bukan pada agama atau ajarannya.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa pengertian agama, alam, sosial, dan budaya itu ?
2. Bagaimana cara agama mengatasi gejala alam ?
3. Bagaimana cara agama mengatasi gejala sosial ?
4. Bagaimana cara agama mengatasi gejala budaya ?

C. PEMBAHASAN
1. Pengertian agama, alam, sosial dan budaya
a. Pengertian agama
Kata agama berasal dari bahasa sansekerta dari kata a berarti tidak dan gama berarti kacau. Kedua kata itu jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak kacau. Sedangkan kata lain untuk agama adalah Religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”, maksudnya bereligi seseorang mengikat dirinya kepada tuhan.
Agama selalu diterima dan dialami secara subjektif. Oleh karena itu, orang sering mendefinisikan agama sesuai dengan pengalamannya dan penghayatannya pada agama yang dianutnya. Mukti Ali, mantan Menteri Agama Indonesia, menulis “agama adalah percaya akan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada kepercayaan utusan-utusanNya untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di ahirat”. Jelas sekali, Ali tidak sedang berbicara masalah agama dalam arti umum. Dia sedang mendefinisikan agama seperti yang dilihatnya dalam agama islam.
Menurut Hendropuspito, agama adalah suatu jenis system sosial yang dibuat oleh penganut- penganutnya yang berproses pada kekuatan- kekuatan non empiris yang dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi mereka. Dalam kamus sosiologi pengertian agama ada 3 macam, yaitu (1) kepercayaan pada hal- hal yang spiritual; (2) Perangkat kepercayaan dan praktik – praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri; dan (3) Ideologi mengenai hal- hal yang bersifat supranatural.
Dari beberapa definisi diatas, jelas tergambar bahwa agama merupakan suatu hal yang dijadikan sandaran penganutnya. Karena sifatnya yang supranatural sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah- masalah yang non empiris.
b. Pengertian alam
Alam adalah :
• dunia, bumi
• segala yang ada di langit dan di bumi (bumi, bintang-bintang, tenaga-tenaga yang ada, dan lain-lain)
• lingkungan yang meliputi golongan atau kumpulan orang atau hidupan lain yang tertentu atau sejenis
• bidang atau lingkungan kegiatan (minat dan lain-lain)
Islam tidak dapat dikaji dari segi ke alaman. Karena alam bukanlah gejala agama, dan alam juga bersifat baku dan tidak dapat berubah. Jadi alam adalah sesuatu yang mutlak dan tidak dapat digunakan sebagai alat penelitian agama.
c. Pengertian sosial
Definisi Sosial dapat berarti kemasyarakatan. Sosial adalah keadaan dimana terdapat kehadiran orang lain. Kehadiran itu bisa nyata anda lihat dan anda rasakan, namun juga bisa hanya dalam bentuk imajinasi. Setiap anda bertemu orang meskipun hanya melihat atau mendengarnya saja, itu termasuk situasi sosial.
Menurut Pitirin Sorogin, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan timbal balik aneka macam gejala sosial, misalnya gejala ekonomi dan moral. Jika budaya adalah bentuk atau cipta karya yang sudah jadi, maka, sosial adalah suatu proses yang sedang berlangsung sebelum proses itu selesai dilakukan.


d. Pengertian budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Jadi, dapat disimpulkan pengertian budaya adalah suatu perbuatan yang sudah baku dan sudah menjadi rutinitas secara terus menerus.

2. Cara agama mengatasi gejala alam
Para ilmuwan telah menunjukkan dengan penelitian intensif bahwa planet bumi telah terancam. Selain itu akibat perubahan iklim dan kehilangan habitat dan ekspansi yang dilakukan oleh manusia, kepunahan spesies semaking bertambah tinggi. Terbukti nyatanya segala konvensi dan peraturan saja tidaklah mengikat dan dapat mengambil langkah untuk menurunkan tingkat kerusakan dan kepunahan spesies di muka bumi. Setelah dirasakan tidak ada perubahan. Barulah timbul kesadaran baru yang mengkaitkan prinsip agama yang diharapkan berperan dalam menanggulangi krisis ekologi.
Prof. Mary Evlyn Tucker besama John Grim, menjadi pelopor untuk forum agama dan lingkungan dan membawa diskursus ini dalam berbagai kegiatan dari tingkat internasional hingga lokal untuk menghimbau supaya agama-agama terlibat dalam menyelamatkan bumi. Evlyn diundang bersama dengan Dr. Ibrahim Ozdemir, dari University of Ankara, Turki untuk memberikan diskusi dengan tema: Religion and Ecology, yang diselenggarakan oleh Center for Religious & Cross - cultural Studies (CRCS) Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Agama menurut Evlyn, mempunyai lima resep dasar untuk menyelamatkan lingkungan dengan lima R :
1. Reference atau keyakinan yang dapat diperoleh dari teks (kitab-kitab suci) dan kepercayaan yang mereka miliki masing-masing.
2. Respect, penghargaan kepada semua makhluk hidup yang diajarkan oleh agama sebagai makhluk Tuhan.
3. Restrain, kemampuan untuk mengelola dan mengontrol sesuatu supaya penggunaanya tidak mubazir.
4. Redistribution, kemampuan untuk menyebarkan kekayaan; kegembiraan dan kebersamaan melalui langkah dermawan; misalnya zakat, infaq dalam Islam.
5. Responsibility, sikap bertanggunjawab dalam merawat kondisi lingkungan dan alam.

3. Cara agama mengatasi gejala sosial
Dalam perspektif masyarakat sekarang, pada masa-masa ini agama dinilai tidak mampu memberikan perannya secara maksimal dalam mengatasi masalah-masalah kenegaraan yang ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia, utamanya masalah sosial dan ekonomi. Bahkan dalam beberapa aspek, agama dinilai sebagai pemicu munculnya konflik sosial dalam kehidupan masyarakat. Hal itu bisa menjadi masalah yang serius. Peran agama dalam mengukir masa depan bangsa Indonesia sangat diharapkan kembali oleh rakyat Indonesia, mengingat "gagalnya" pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Dalam momentum inilah agama menjadi harapan akhir rakyat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang kini semakin kompleks.
Langkah awal yang paling tepat untuk menggugah kembali potensi agama dalam mengatasi masalah-masalah kenegaraan (sosial-ekonomi) adalah dengan mengubah paradigma para agamawan dari orientasi yang selalu bertumpu pada dasar ritual menuju peran sosial-ekonomi yang potensial untuk dicampuri oleh agamawan. Langkah selanjutnya yaitu mengubah pola pikir para agamawan tersebut.
Mereka (para agamawan) dituntut untuk dapat merealisasikan konsep keagamaannya, kemudian memberikan solusi praktis penyelesaiannya. Hal ini penting bagi masa depan bangsa ini untuk mencapai cita-cita, dan penting pula bagi para agamawan itu sendiri untuk memaksimalkan potensi yang sebenarnya ada pada diri mereka.
agama melalui peran para agamawan hendaknya tidak hanya memberikan peran sebatas pada pemberian hukum atas persoalan-persoalan dan sisi-sisi kehidupan mereka. Peran agamawan tidak hanya sebatas pembimbing mental-spiritual mereka. Lebih dari itu, para agamawan dituntut untuk bisa memberikan solusi riil penyelesaian persoalan, misalnya dengan membentuk lembaga-lembaga yang menampung mereka dan mengembangkan potensi-potensi yang mereka miliki sehingga mereka dapat menyalurkan dan memanfaatkan potensinya dan menunjang perekonomiannya sendiri tanpa harus melakukan tindakan kriminal.
Setidaknya, peranserta seperti itulah yang selama ini seharusnya dilakukan oleh agamawan. Karena pada realita menunjukkan bahwa itulah potensi yang dimiliki agama dalam menata kehidupan ini, seperti dahulu ketika agama berpartisipasi dalam membebaskan kita dari tirani penjajahan.
Dengan kontribusi signifikan dari agama dalam menyelesaikan permasalahan yang berkembang di negara ini, berarti agama telah menampakkan wujud aslinya dan telah memaksimalkan potensinya dalam menata kehidupan sosial masyarakat. Sehingga peran agama pun tidak hanya terlihat dalam sisi ritual-spiritual masyarakat saja, namun agama juga mewarnai kehidupan sosial-ekonomi masyarakat ini. Maka di sinilah kita menemukan peran universal agama dalam kehidupan masyarakat, Indonesia khususnya.

4. Cara agama mengatasi gejala budaya
Menyikapi adanya “budaya beragama” pada umumnya, saran yang terbaik adalah memiliki ilmu yang lebih kaya dan lebih mendalam tentang ajaran standar agama. Dengan memahami ajaran agama yang baku, kita akan tahu mana yang memang berasal dari Tuhan dan utusannya (para nabi) dan mana yang merupakan budaya beragama. Setiap agama menganjurkan pengikutnya untuk memiliki ilmu agama dalam tingkat yang advanced.
Saya percaya dengan memiliki ilmu agama yang memadai, kita akan kaya informasi dan karenanya dapat memahami dan memaklumi bila ada kelompok lain yang mengembangkan budaya tertentu. Dengan memiliki pengetahuan standar dalam agama, kita tidak mudah tergiur saat digoda untuk bergabung dengan kelompok-kelompok agama yang boleh jadi merugikan kita.
Sementara itu, berkaitan dengan sikap terhadap budaya beragama “yang menyimpang”. Sebagian besar ulama dan umat hawatir tentang ajaran-ajaran yang nyleneh tersebut. Mereka khawatir keyakinan dan praktik kontroversial tersebut menyebabkan umat mereka menjadi kelompok yang sesat. Dengan kesesatan itu, mereka bukannya masuk surga, tapi justru sebaliknya: menjadi penghuni neraka.
Kalau seseorang mengkhawatirkan keselamatan orang-orang yang disayangi, itu adalah sesuatu yang wajar. Dengan kekhawatiran itu kita berharap para umat lebih banyak belajar tentang isi ajaran agamanya dan ulama memperbesar usaha untuk meningkatkan pemahaman umat terhadap agama. Usaha semacam ini pasti positif karena dapat menjadikan seseorang lebih mengenal ajaran agamanya.
Kalau ada “budaya beragama” yang menyimpang dari agama, sikap yang terbaik adalah bersikap kritis. Dalam hal ini adalah membandingkan budaya beragama tersebut dengan ajaran agama yang standar. Bila menyimpang jauh, maka itu berarti budaya beragama yang sesat. Kepada umat pada umumnya, kita perlu memberitahukan bagian-bagian mana yang menyesatkan dan perlunya kehati-hatian diri setiap umat atas kelompok tertentu.

D. KESIMPULAN
1. agama merupakan suatu hal yang dijadikan sandaran penganutnya. Karena sifatnya yang supranatural sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah- masalah yang non empiris.
Sosial adalah keadaan dimana terdapat kehadiran orang lain.
budaya adalah suatu perbuatan yang sudah baku dan sudah menjadi rutinitas secara terus menerus
2. Agama mempunyai lima resep dasar untuk menyelamatkan dengan lima R yaitu Reference, Respect, Restrain, Redistribution, Responsibility,
3. Langkah yang paling tepat untuk menggugah kembali potensi agama dalam mengatasi masalah-masalah sosial adalah dengan mengubah paradigma para agamawan, mengubah pola pikir para agamawan tersebut dan agamawan dituntut untuk bisa memberikan solusi riil penyelesaian persoalan.
4. Cara agama menyikapi masalah budaya yaitu agamawan harus memiliki ilmu yang lebih kaya dan lebih mendalam tentang ajaran standar agama, agamawan banyak belajar tentang isi ajaran agamanya dan ulama memperbesar usaha untuk meningkatkan pemahaman umat terhadap agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar